Senin, 30 Maret 2009
petikan humor n pesan moral d baliknya....
A junior manager, a senior manager and their boss are on their way to a meeting.
On their way through a park, they come across a wonder lamp. They rub the lamp and a ghost appears. The ghost says, "Normally, one is granted three wishes but as you are three, I will allow one wish each."
So the eager senior manager shouted, I want the first wish. I want to be in the Bahamas, on a fast boat and have no worries. "Pfufffff, and he was gone.
Now the junior manager could not keep quiet and shouted, "I want to be in
Florida with beautiful girls, plenty of food and cocktails.
"Pfufffff, and he was also gone.
The boss calmly said,"I want these two idiots back in the office after lunch at 12.35 pm."
Moral of the story is:
Lesson I - Always allow the bosses to speak first.
****************************************************************
Boss Knows Everything??
Standing in front of a shredder with a piece of paper in his hand. "Listen,"
said the CEO, "this is a very sensitive and important document, and my secretary
has left. Can you make this thing work?"
"Certainly," said the young executive.
He turned the machine on, inserted the paper, and pressed the start button.
"Excellent, excellent!" said the CEO as his paper disappeared inside the
shredder machine.
"I just need one copy."
Lesson II - Never, never assume t hat your BOSS knows everything.
************ ********* ********* ********* ********* *********
Ese & Key
An American and a Japanese were sitting on the plane on the way to LA when the American turned to the Japanese and asked, "What kind of -ese are you?"
The Japanese confused, replied, "Sorry but I don't understand what you mean."
The American repeated, "What kind of -ese are you?"
Again, the Japanese was confused over the question. The American, now irritated, then yelled, "What kind of -ese are you ....... Are you a Chinese, Japanese, Vietnamese!, etc......??? "
The Japanese then replied, "Oh, I am a Japanese."
A while later the Japanese turned to the American and asked: What kind of 'key' was he.
The American, frustrated, yelled, "What do you mean what kind of '-key' am I?!"
The Japanese said, "Are you a Yankey, donkey, or monkey?"
Lesson III - Never insult anyone.
************ ********* ********* ********* ********* *********
pencapaian hidup
Pada jaman dahulu kala, hiduplah seorang raja. Suatu hari, Sang Raja memberitahu perawat kudanya, bahwa ia diperbolehkan menunggang kudanya dan menjelajahi daerah yang dikehendakinya seluas mungkin. Sang Raja akan menghadiahi perawat kuda itu semua daerah yang berhasil dijelajahinya.
Tentu saja, sang perawat kuda segera melompat ke kudanya dan memacu kudanya berlari secepat mungkin, menjelajahi sebanyak mungkin daerah yang bisa dilewatinya. Ia terus berjalan, dan tanpa henti mencambuk kudanya agar berlari secepat mungkin. Rasa lapar dan lelah tidak dihiraukannya. Ia ingin bisa menjelajahi sebanyak mungkin daerah.
Tibalah hari dimana ia sudah berhasil menjelajahi daerah yang cukup banyak. Namun pada saat itu, ia sudah kehabisan tenaga dan sekarat. Bertanyalah ia pada dirinya sendiri, "Mengapa saya memaksa diri menjelajahi daerah sebanyak ini? Kini saya sekarat, dan yang saya butuhkan hanya sedikit tempat untuk menguburkan tubuh yang sekarat ini?
Pengarang: Tidak Diketahui; Sumber: Tidak Diketahui
tujuan hidup
Tujuan Hidup
“Jalan menuju tujuan kita tidak selamanya lurus. Kadang kita mengambil jalan yang salah, tersesat, atau harus memutar. Mungkin masalahnya bukan jalan apa kita ambil. Yang penting adalah kita sudah memulai.” - Barbara Hall
“Sebuah rencana yang baik adalah seperti sebuah peta. Ia menunjukkan tempat tujuan kita, dan biasanya jalan terbaik menuju ke sana.” - H. Stanley Judd
“Apa yang Anda perlukan adalah sebuah rencana, sebuah peta, dan keberanian untuk mengarah pada tujuan Anda.” - Earl Nightingale
“Dengan melewati semua hambatan dan rintangan, seseorang pasti akan tiba pada tujuan yang diinginkannya.” - Christopher Columbus
“Fokus pada perjalanannya, bukan pada tujuannya. Kebahagiaan yang sebenarnya bukan pada saat menyelesaikannya, melainkan pada saat melakukannya.” - Greg Anderson
“Ikuti apa yang sungguh-sungguh Anda sukai, dan biarkan ia menuntun Anda menuju tujuan Anda.” - Diane Sawyer
“Ia yang tidak tahu bagaimana melihat ke belakang, ke tempat asalnya, tidak akan mencapai tempat tujuannya.” - Jose Rizal
“Saya tidak bisa mengubah arah angin, tapi saya bisa menyesuaikan layar agar saya tetap mencapai tempat tujuan saya.” - Jimmy Dean
“Tujuan seseorang bukanlah sebuah tempat. Sesungguhnya, ia adalah sebuah cara pandang yang baru terhadap segala sesuatu.” - Henry Miller
“Sukses adalah sebuah perjalanan, bukan tujuan. Saat Anda melakukannya adalah jauh lebih penting dibanding saat Anda berhasil mencapainya.” - Arthur Ashe
“Tanpa sasaran dan rencana untuk mencapainya, Anda adalah seperti sebuah perahu yang berlayar tanpa tujuan.” - Fitzhugh Dodson
“Jalan yang mengarah pada tujuan Anda tidaklah terpisah dari tujuan Anda. Ia adalah bagian dari tujuan itu sendiri.” - Charles de Lint
“Hidup yang baik adalah sebuah proses, bukan sebuah keadaan. Ia adalah sebuah arah, bukan tujuan.” - Carl Rogers
“Anda ditakdirkan menjadi orang yang Anda putuskan.” – Ralph Waldo Emerson
“Anda dapat menentukan apa yang Anda inginkan. Anda dapat memutuskan sasaran utama, target dan tujuan Anda.” – W. Clement Stone
“Jalan kehidupan penuh dengan tikungan dan belokan, dan tidak ada dua arah yang sama. Tapi pelajaran hidup ini datang dari proses perjalanannya, bukan dari tujuannya.” – Don William Jr
Minggu, 29 Maret 2009
ukhuwah
Umat Muslim bersaudara. Itu adalah ajaran dan satu-satunya ikatan yang mulia yang pernah ada. Ikatan yang mengalahkan bermacam-macam ikatan yang ada di antara manusia sebelumnya. Ikatan kesukuan, nasionalisme, organisasi, dan berbagai ikatan priomordialis menemui akhir riwayatnya di tangan ukhuwah Islamiyyah.
Sebelum kedatangan Islam barangkali orang tidak pernah dapat membayangkan bagaimana caranya mempersatukan hati dan pikiran seluruh umat manusia. Bagaimana bisa seorang yang berkulit hitam dapat bersaudara dengan yang berkulit putih, kuning atau merah? Begitupula bahasa mereka berbeda, asal suku bangsa mereka juga berbeda? Entah bagaimana cara mempertautkan seluruh hati mereka. Sebuah hal yang terlalu rumit bagi manusia yang memang kemampuan berpikirnya serba terbatas.
Kita pun melihat sejarah dunia itu hampir tenggelam dengan pertikaian yang disebabkan perbedaan-perbedaan yang sudah alamiah ini. Romawi menaklukkan separuh dunia untuk kemudian menciptakan kelas-kelas sosial menurut keturunan dan suku bangsa. Demikian pula Persia. Jazirah Arab, tempat kelahiran Islam, pun pernah tenggelam dalam hiruk pikuk konflik antar kabilah. Pada abad modern Perang Dunia meletus sebanyak dua kali lagi-lagi demi alasan nasionalisme; Jepang dengan Nippon-nya, Hitler dengan Nazi-nya, Mussolini dengan Fasisme-nya, dan sekutu dengan kebanggaan aliansi sekutunya.
Padahal seluruh perbedaan-perbedaan itu ada yang bersifat alamiah. Ketika kita lahir ke alam dunia tidak pernah sedikitpun terbersit dalam benak kita untuk misalkan; berkulit coklat, bermata sipit, berbahasa Melayu, dsb. Seluruhnya adalah alamiah. Karenanya menjadi tidak adil kalau kemudian dipermasalahkan. Bagaimana bisa seorang kulit putih merasa lebih mulia dari orang lain hanya karena warna kulitnya? Bukankah ‘kebetulan’ saja ia terlahir dengan kulit putih. Ah, itulah lemahnya manusia, hampir selalu ego-nya mengalahkan akal sehatnya.
“Sesungguhnya orang-orang mu’min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” (TQS. Al Hujurat:10)
“Tidak ada keutamaan antara orang Arab dibandingkan orang Ajam (non-Arab), dan antara orang Ajam dengan orang Arab. Juga tidak ada keutamaan antara orang berkulit putih dibandingkan dengan orang berkulit hitam, juga tidak ada keutamaan antara orang berkulit hitam dibandingkan dengan orang berkulit putih, kecuali dengan takwa.”(al hadits)
Dengan indah Allah Swt. meminta kita untuk tidak merasa lebih ‘tinggi’ dibandingkan orang lain hanya karena perbedaan-perbedaan alamiah tersebut. Semata takwa yang membedakan seorang manusia dengan manusia yang lain. Dengan falsafah hidup kebersamaan dan kesetaraan itu, Islam telah memecahkan masalah ketidakharmonisan hubungan sesama manusia. Baik antar suku bangsa, antar individu, maupun antar jenis kelamin.
And then, apakah kita siap menerima konsekuensi dari sebuah ukhuwah Islamiyyah? Siapkah kita untuk berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan seluruh saudara-saudara kita? Siap jugakah kita untuk menerima segala macam perbedaan — baik fisik maupun pemikiran - dengan mereka yang berada di luar rumah kita, bahkan tanah air kita? Siap jugakah kita untuk tidak mendzalimi sesama muslim, tidak menyerahkannya pada musuh, dan untuk tidak membicarakan kejelekan mereka? Dan banyak lagi hak dan kewajiban sesama muslim yang harus kita kerjakan sebagai bukti cinta kita pada saudara seiman kita.
“Belum sempurna iman seseorang sampai dia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.”(al hadits)
Kawan, terlalu sering kata ukhuwah berkumandang di telinga kita dan keluar dari bibir kita,? padahal mungkin kita sendiri belum memahami tanggung jawab dari sebuah ukhuwah. Kalau Amin yang bukan orang kaya masih menyimpan iri hati dan kebencian pada Tono yang dilimpahi harta, maka ukhuwah tinggallah angan-angan. Demikian pula seandainya Tono yang kaya raya tidak pernah peduli apalagi mau membantu Amin yang kekurangan, ukhuwah berarti hanyalah slogan saja. Bukankah hal seperti demikian teramat sering terjadi di tengah-tengah kita; yang miskin iri hati dan benci pada yang kaya, sementara yang kaya tidak peduli pada penderitaan sesama muslim.
Bagi mereka yang setiap hari bergelut dengan dakwah dan syiar Islam, juga tidak ada salahnya merenung; sudahkah ukhuwah itu menjadi bagian dari kehidupan kita ataukah hanya sekedar rangkaian kalimat indah dalam ceramah dan tulisan kita. Atau jangan-jangan ukhuwah itu hanya berputar pada kelompok kita saja, tidak pada yang lain.
Dulu kita sering mendengar tokoh agama saling mencaci, menghujat dan menghina hanya karena persoalan qunut, jumlah rakaat shalat tarawih, dan berbagai macam masalah-masalah sepele lainnya. Perbedaan yang tidak pernah menyeret para ulama-ulama terdahulu masuk ke dalam keributan, apalagi permusuhan. Kini, ukhuwah juga sering terpecah dengan perbedaan kelompok pengajian, bendera partai, atau ustadz. Seorang kawan pernah bercerita dengan sedih bahwa ia dikucilkan oleh kawan-kawannya sesama aktivis pengajian hanya karena ia mengaji pada ustadz yang tidak sepaham dengan ustadz mereka. Seorang kawan lagi dengan kesal bercampur kecewa bercerita bahwa ia sering mendapat fitnah dari sesama aktivis muslim - yang kawan dekatnya - juga karena ia lebih cenderung pada partai Islam yang berbeda dengan kawan-kawannya.
Kawan, sadarkah kita bahwa menerima ukhuwah berarti juga harus menerima segala perbedaan? Bersatu bukan berarti harus seragam. Hanya dua hal yang harus sama akidah dan tujuan perjuangan kita; Islam dan ridlo Allah Swt. Selebihnya adalah perbedaan yang akan menambah indah kehidupan kita bersama. Bersaudara bukan berarti menolak perbedaan. Bukankah perbedaan itu sudah ada sejak generasi pertama agama ini. Lihatlah bagaimana para khulafaur rasyidin dengan lapang dada menerima perbedaan di antara mereka, tanpa ada rasa dendam, fitnah atau caci maki.
Mari kita rajut kembali ukhuwah itu dengan semangat keikhlasan dan tentu saja dorongan iman. Marilah kita membuka mata lebar-lebar dan mendengarkan dengan seksama agar kita terhindar dari segala perpecahan. Saudara-saudara kita bukanlah semata yang ada dalam kelompok kita. Mereka yang berada di luar sana; baik yang belum sadar untuk kembali ke jalan Allah ataupun yang tengah meniti ridlo Allah pada jalur yang berlainan adalah saudara dalam keimanan dan perjuangan.
Alangkah sempitnya hati kita, dan dangkalnya pikiran kita seandainya menganggap ukhuwah adalah sebuah keseragaman, dengan menafikan perbedaan. Ayo kita bersama rajut keindahan ukhuwah Islamiyyah yang sejati itu.dualisme
Dualisme bisa menjadi perselingkuhan intelektual. Hatinya berzikir pada Tuhan tapi fikirannya menghujatNya
Oleh: Hamid Fahmy Zarkasyi *
Dalam sebuah acara talk-show di sebuah stasiun TV Inggeris tahun 90 an ditampilkan isu pelacuran. Panelisnya pendidik, pastur, tokoh masyarakat dan beberapa pelacur. Hampir semua menyoroti profesi pelacur dengan nada sinis. Pelacur adalah sampah masyarakat. Pelacur mesti dijauhkan dari anak-anak. Merusak adat kesopanan sosial, dan seterusnya.
Tapi yang menarik giliran pelacur angkat bicara. “Saya memang pelacur. Dan saya melakukan ini karena saya janda. Saya menjalani profesi ini untuk menghidupi tiga orang anak saya. Kalian boleh saja mencemooh. Tapi siapa yang perduli jika anak-anak saya kelaparan, siapa! Siapa!” ia berteriak lantang. “Supaya kalian semua tahu, lanjutnya, saya memang pelacur tapi hati saya tetap suci”. Hadirin pun bersorak.
Nampaknya orang bersorak bukan karena ia pelacur, tapi karena ia dualis. Menjadi pelacur dan merasa suci. Dua sifat yang kontradiktif. Yang saya heran justru mengapa mereka bersorak. Sebab doktrin dualisme sudah lama berakar di dalam pemikiran Barat. Asal usul terdekatnya adalah filsafat akal (philosophy of mind) yang digemari Descartes, Kant, Leibniz, Christian Wolf dan lain-lain. Menurut Christian Wolff misalnya “The dualists (dualistae) are those who admit the existence of both material and immaterial substances,” tapi wujud materi dan jiwa tepisah. Pengertian ini disepakati Pierre Bayle dan Leibniz.
Bahkan konon Barat mewarisinya dari kepercayaan Zoroaster (1000 SM) di Timur. Dunia dianggap sebagai pergulatan abadi antara kebaikan dan kejahatan. Thomas Hyde menemukan doktrin ini dalam sejarah agama Persia kuno (Historia religionis veterum Persiarum, 1700). Doktrin Zoroaster diwarisi oleh Manicheisme dan diramu dengan dualisme Yunani. Tuhan akhirnya dianggap sebagai person dan juga materi.
Bagi orang Mesir kuno Re adalah tuhan matahari simbol kehidupan dan kebenaran. Lawannya adalah Apophis lambang kegelapan dan kejahatan. Deva dalam agama Hindu adalah tuhan baik, musuhnya adalah asura tuhan jahat. Di Babylonia peperangan antara Marduk dan Tiamat adalah mitos yang mewarnai worldview mereka. Mitologi Yunani selalu menampilkan peperangan Zeus dengan Titans. Di Jerman perang antara Ases dan Vanes, meski berakhir damai.
Dalam filsafat, Pythagoras adalah dualis. Segala sesuatu diciptakan saling berlawanan: satu dan banyak, terbatas tak terbatas, berhenti-gerak, baik-buruk dsb. Empedocles setuju dengan Pythagoras, baginya dunia ini dikuasai oleh dua hal cinta dan kebencian. Plato dalam dialog-dialognya memisahkan jiwa dari raga, inteligible dari sensible.
Tapi apakah dualisme itu benar-benar realitas? Atau sekedar persepsi yang menyimpang? Sebab nilai-nilai monistis (kesatuan) dalam realitas juga ada dan riel. Heraclitus dan Parmenides mengkritik dualisme Pythagoras. Banyak itu itupun berasal dari yang satu yang abadi. Yang dianggap saling berlawanan itu sebenarnya membentuk kesatuan dan tidak bisa dipisahkan. Aristotle ikut-ikutan. Dualisme Plato juga tidak benar. Jika jiwa diartikan bentuk (form) dari raga alami yang berpotensi hidup maka jiwa adalah pasangan raga. Jadi jiwa dan raga adalah suatu kesatuan. Tapi Aristotle ternyata masih dualis juga. Ia memisahkan akal dari jiwa.
Dalam kepercayaan kuno pun unsur monisme juga wujud. Marduk ternyata turunan dari Tiamat. Zeus dan Titan berasal dari moyang yang sama. Leviathan ternyata diciptakan Tuhan. Pemberontak Mahabharata adalah dari keluarga yang sama. Dalam agama Zoaraster, kebaikan selalu dinisbatkan kepada Ahura Mazda atau Ohrmazd sedangkan kejahatan disifatkan kepada Ahra Mainyu atau Ahriman. Tapi dalam kitab Gathas, kebaikan dan kejahatan adalah saudara kembar dan memilih salah satu karena kehendak.
Para pemikir Kristen mulanya memilih ikut Plato, tapi mulai abad ke 13 mereka pindah ikut Aristotle dengan beberapa modifikasi. Di zaman Renaissance dualisme Plato kembali menjadi pilihan. Tapi pada abad ke 17 Descartes memodifikasinya. Baginya yang riel itu adalah akal sebagai substansi yang berfikir (substance that think) dan materi sebagai substansi yang menempati ruang (extended substance). Teori ini dikenal dengan Cartesian dualism. Tujuannya agar fakta-fakta didunia materi (fisika) dapat dijelaskan secara matematis geometris dan mekanis. Kant dalam The Critique of Pure Reason mengkritik Descartes, tapi dia punya doktrin dualismenya sendiri. Pendek kata Neo-Platonisme, Cartesianisme dan Kantianisme adalah filsafat yang mencoba merenovasi doktrin dualisme. Tapi terjebak pada dualisme yang lain.
Perang antara monisme dan dualisme, sejatinya adalah pencarian konsep ke-esaan-an (tawhid). Peperangan itu digambarkan dengan jelas oleh Lovejoy dalam bukunya The Revolt Against Dualism. Fichte dan Hegel, misalnya juga mencoba menyodorkan doktrin monisme, tapi bagaimana bentuk kesatuan kehendak jiwa dan raga, tidak jelas. Nampaknya, karena arogansi akal yang tanpa wahyu (unaided reason) maka monisme tersingkir dan dualisme berkibar. Jiwa dan raga dianggap dua intitas.
Seorang dualis melihat fakta secara mendua. Akal dan materi adalah dua substansi yang secara ontologis terpisah. Jiwa-raga (mind-body) tidak saling terkait satu sama lain, karena beda komposisi. Akal bisa jahat dan materi bersifat suci. Atau sebaliknya, jiwa selalu dianggap baik dan raga pasti jahat. Padahal dari jiwalah kehendak berbuat jahat itu timbul. Dalam Islam kerja raga adalah suruhan jiwa (innama al-a’mal bi al-niyyat). Karena itu ketulusan dan kebersihan jiwa membawa kesehatan raga.
Dualis dikalangan antropolog pasti memandang manusia dari dua sisi: akal dan nafsu, jiwa dan raga, kebebasan dan taqdir (qadariyyah & jabariyyah). Dalam filsafat ilmu, dualisme pasti merujuk kepada dichotomi subyek-obyek, realitas subyektif dan obyektif. Kebenaran pun menjadi dua kebenaran obyektif dan subyektif. Bahkan di zaman postmo kebenaran ada dua absolut dan relatif. Dalam Islam konsep tawhid inherent dalam semua konsep, tentunya asalkan sang subyek berfikir tawhidi.
Nampaknya doktrin dualisme telah memenuhi pikiran manusia modern, termasuk pelacur itu. Pernyataan pelacur itu tidak beda dari dialog dua sejoli dalam film Indecent Proposal, “I slept with him but my heart is with you”. Seorang dualis bisa saja berpesan “lakukan apa saja asal dengan niat baik”. Anak muda Muslim yang terjangkiti pikiran liberal akan berkata ‘jalankan syariah sesuka hatimu yang penting mencapai maqasid syariah”. Kekacauan berfikir inilah kemudian yang melahirkan istilah “penjahat yang santun”, “koruptor yang dermawan”, “atheis yang baik”, “Pelacur yang moralis”, dan seterusnya. Mungkin akibat ajaran dualisme pula Pak Kyai menjadi salah tingkah dan berkata “Hati saya di Mekkah, tapi otak saya di Chicago”. Dualisme akhirnya bisa menjadi perselingkuhan intelektual. Hatinya berzikir pada Tuhan tapi fikirannya menghujatNya. [http://hidayatullah.com]
Penulis Direktur Eksekutif Institute for the Study of Islamic Thought and Civilization (INSISTS)